Minggu, 17 November 2013

Pilu




airmatamu kau jatuhkan di sudut ruangan

menahan setiap amarah,benci,dan dendam dalam sebuah kepalan

masih dengan airmata mengalir

kau palingkan raga

dengan tanpa rasa kau memandang hampa

sepi...,hanya kau sendiri

frustasi...,hanya benda mati yang menemani

emosi...,coretan dinding penuh caci maki diri

menghancurkan setiap jejak harga diri yang pernah kau miliki

buram...,tatapan matamu bertambah suram

cahaya...,perlahan kau padamkan dengan pejaman mata

sumbu terakhir akal sehatmu telah padamkan nyala

hatimu sudah bulat untuk akhiri segalanya

kau berdiri sambil menyeka matamu dengan kasar

kau berjalan gontai menuju meja belajar

kau duduk,lalu menarik laci terakhir dari mimpi-mimpi

mengambil dan menggenggam bara yang belum lama ini kau beli

dengan hati yang kosong kau bergerak menuju ruang eksekusi

menahan mimpi dalam dirimu untuk selamanya abadi

Bara Hati Pembungkam




dinginnya malam tertahan di depan rasa

membuatnya seakan tak berarti

karena cahaya hatiku terus saja memancar ke segala ruang

menyibak setiap kelesuan

mencoba menelan setiap lubang hitam

memaksa mereka menjadi segumpal bara

yang memanaskan setiap impian yang ku tulis

aku ingin berdansa dengan bunga seberang dunia

aku ingin menggenggam setiap tangan

aku ingin semesta melihatku lewat pena,nada,dan mata

aku ingin bernyanyi bersama ke empat benua

aku ingin ini dan ini dan ini

SSSHHH.......

semakin lama bara hati semangat terus terbentuk

siap membungkam setiap mulut dan noda



The Last Flower




disudut jalan tanpa tikungan

aku berhenti sejenak

terpana tanpa saat

dia bergerak ditiup angin
 
tidak terdengar kehidupan

tidak terdengar denyut

tubuh itu telah layu

“sayang...”

Siapa yang telah dikhianati

Siapa yang telah tersakiti

Siapa yang sedang terluka

Aku menghela nafas

Segera kuambil tubuhnya

Kucium bau tubuh kaku sang ratu

“masih wangi seorang kekasih”khayalku

Aku beranjak dari tempat itu

Menuju sebuah persimpangan

Satu helaan nafas kemudian aku berlalu

Meninggalkan tubuh itu beristirahat

Disebuah kotak kecil bertuliskan...

“buanglah sampah pada tempatnya”

Hilang




cinta menari bersama irama nafasku

mengiringi nada-nada buluh perindu

sukmaku terhisap manisnya candu

angan palsu menanti waktu

tarian cinta semakin lama semakin senja

menggugah kembali semua kisah lara

cinta pedih yang membelenggu jiwa

telah hilang bersama rentanya usia

aku berdiri di tengah duka dan sendu

merah yang dulu begitu menggebu

lenyap sudah di telan waktu

hatiku sekarang seakan mati suri

di jaga lembut jutaan puisi

semoga ketika cinta itu datang lagi

kaulah yang membangunkannya dewi