Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Juli 2014

Dia Siapa...?

 Buku-buku bertebaran dilantai kosku yang sempit dan penuh sampah bekas makanan. Tidak butuh orang pintar untuk menyatakan kalau aku ini seorang yang jorok. Sebenarnya, aku mempunyai waktu untuk membersihkannya, banyak waktu malah, tapi karena dasarnya aku memang pemalas, pekerjaan membersihkan acapkali tertunda. Juga, dari kecil aku terbiasa dimanjakan oleh kedua orangtuaku. Bahkan ketika aku saat aku sudah smu sekalipun, ibukulah yang repot-repot membersihkan kamarku pada hari minggu setelah sebelumnya mengomel panjang. Sampai sekarang, ibuku masih mengomel padaku agar aku rajin membersihkan kamar. Bedanya, sekarang aku di omeli lewat hape dan kosanku tidak akan bersih kalau bukan aku sendiri yang membersihkannya.

Aku menatap nanar keadaan sekelilingku yang sudah seperti tempat sampah ini. Ya, tidak salah kalau aku berkata kamarku ini sebagai tempat sampah. Kamu bisa bayangkan, sudah 2 kali tikus got besar berwarna hitam dengan bulunya yang penuh lumpur masuk kedalam kamar kosanku dengan enteng. Kecoapun ketika aku terjaga malam harinya untuk mengambil minumpun sering aku lihat bermain-main diantara tumpukan sampah bekas makananku yang menggunung. Aku yakin dia berpikir dia sedang berada disurga saat dia melihat banyaknya remah-remah cemilanku yang tanpa aku sadari sudah berubah warna.

Tidak cukup sampai disitu bahkan binatang yang tidak aku berbahaya seperti kelabang merah pernah masuk ke kamar kosanku tercinta ini. Aku masih ingat bagaimana dia dengan santainya berjalan dengan kakinya yang berjalan seirama kebawah tumpukan buku dan memejamkan matanya disana. Aku kemudian mengeluarkannya dengan bekas bungkus cemilan kacang yang kubeli seminggu lalu. Paling tidak sampahku ada gunanya pada saat seperti ini.

Huft...., aku meregangkan badanku sambil bangkit dari duduk. Setelah aku merasa otot-ototku lebih segar dan nyaman untuk dibawa bergerak, aku bergegas keluar mengejar seseorang yang lewat didepan kamar kosanku.

pak..., tunggu sebentar...”aku memanggilnya dengan agak sedikit keras.

Bapak tua yang memikul beban berat dipunggungnya berpaling kearahku. Kemudian sambil tersenyum dia berjalan kearahku. Aku renyuh melihat senyumnya, sebuah senyuman yang terlihat penuh harapan. Wajahnya yang keriput dengan gigi yang terlihat kuning dan cuma tinggal beberapa semakin membuat hatiku iba dan kasihan. Ah, sudah lama aku perhatikan ini, aku ini memang orang yang melankolis dan sentimentil.

beli apa nak....?”tanyanya padaku sambil meletakkan barang dagangannya yang aku pikir beratnya paling tidak sebesar 60 kg. Memikul beban seberat ini dan membawanya berpuluh-puluh kilometer setiap hari. Anda pantas mendapatkan medali bapak tua pekerja keras.

nak...?” si bapak menyadarkanku dari lamunan, aku sedikit tersentak kaget mendengar suaranya yang terdengar tidak begitu jelas.

eh ya pak..., sapu ini, saya ambil satu....”kataku sambil mengambil sebuah sapu plastik bergagang warna merah.

terimakasih nak...”kata sibapak beranjak dariku setelah aku membayar sapu yang dijualnya adegan tawar menawar barang. Kamu pikir aku gila apa masih menawar saat melihat keadaan sibapak yang kayak gitu.

Yosh..., aku kembali meregangkan tubuhku sambil kali ini membuka pintu kamar kosanku lebar-lebar. Ah..., kecoa besar berwarna coklat yang sering aku jumpai saat terbangun pada malam hari terlihat menderita dimulut seekor cicak. Meskipun dia terlihat meronta-ronta dengan keras, gigitan cicak yang tubuhnya tidak terlalu besar tersebut masih terlalu kuat untuk tubuhnya yang sudah melemah.

Meskipun kasihan, aku tidak mungkin membantunya lepas dari gigitan predator dinding ini. Selain tidak mau mengambil rezeki cicak bermata besar tersebut, kalaupun aku selamatkan si kecoa juga pasti bakalan mati dalam beberapa menit. Jadi, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain mengusir cicak tersebut dengan kecoa yang sedang meregang nyawa dimulutnya.

Beberapa saat setelah adegan salah seorang yang dijuluki oleh masyarakat sebagai agen perubahan mengusir cicak dari kamarnya. Aku langsung bergerak mengambil kresek hitam besar yang aku simpan disakuku. Segera tanpa buang waktu aku mengambil bungkus cemilan yang berserakan, kertas-kertas yang berisi penuh coretan gambar iseng yang aku buat saat sedang bosan, kulit jeruk yang aku beli 2 hari yang lalu, dan setiap barang yang aku pantas untuk disebut sebagai sampah untuk dimasukkan kedalam kantong kresek hitam yang sedang aku pegang.

Setelah itu melanjutkannya dengan merapikan buku-bukuku yang berserakan dan meletakkannya ketempat yang seharusnya. Namun, ternyata tempat bukuku sudah tidak muat lagi untuk menampung buku-bukuku yang sudah bertambah banyak tanpa aku sadari. Terpaksa aku menumpuknya dengan rapi disudut kamar sembari berencana untuk membeli rak buku yang baru bulan depan. Aku tersenyum melihat beberapa bukuku yang terlihat kumal dan ada bekas makanan beberapa diantaranya. Kebiasaanku untuk membaca saat makan memang susah untuk dihentikan. Bahkan saat makan diluarpun aku tidak akan bisa makan dengan tenang, kalau tidak ada hape ditangan. Untunglah jaman sudah canggih, aku bisa menyimpan banyak buku dalam sebuah benda kecil yang bisa digenggam tangan.

Ah sudahlah..., kenapa jadi ngelamun lagi. Sementara masih banyak pekerjaanku untuk membersihkan kamar kecil ini. Belum lagi mencuci karpen dan mengepel lantai. Aku rasa mungkin bakalan membutuhkan waktu beberapa jam. Akh, berpikir begitu, semangatku yang tadinya menggebu-gebu mendadak turun saat berpikir pembersihan ini bakalan berjalan lama. Namun...,

aku tidak suka orang yang kotor...”.

Suara lembut yang sangat aku kenal mendadak bergema dikepalaku. Aku mendesah dengan sesungging senyum diwajah. Apalagi saat sosok yang suaranya merdu bak burung nuri terbayang jelas dalam ingatanku. Hahaha..., bagaimana bisa aku lupa alasan kenapa mendadak saja aku tergerak untuk membersihkan kamar kosanku yang membuat ibuku kos kebingungan tidak percaya. Bagaimana bisa aku lupa terhadap seseorang yang menjadi alasanku untuk berubah menjadi lebih baik, sehingga pantas untuk mendapat perhatiannya.
Kemudian tanpa pikir panjang aku meraih sapu yang baru aku beli tadi untuk mendapatkan sentuhan pertamanya. Sambil bersungut-sungut menyapu bekas roti dan cemilan yang ada dikarpet aku mengeluh lirih

Sial..., dia itu siapa sih...?”

Tanpa aku sadari, akupun kembali tersenyum dengan khayalan yang melayang-layang dikepala.

Kamis, 27 Februari 2014

Terima Kasih Bu...


Disudut kamar yang sunyi,diatas ranjang yang dingin aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata.Tidak ada suara yang terdengar kecuali bunyi jangkrik dikebun belakang rumah.Hah...,aku benar-benar khawatir apa yang akan terjadi kepada kalau ibu tiada.Apakah ada yang berbaik hati menemani tubuhku yang sudah mati ini.Bagaimana aku tidak khawatir dengan masa depan kalau untuk menghirup udara luar saja ibu harus membopongku dipunggungnya.

Ah ibu...,aku teringat kejadian tadi siang saat beliau sedang keluar rumah untuk menjual hasil kebun belakang rumah yang tidak seberapa.Sesaat setelah ibu pergi,aku merasa ada yang mendesak ingin keluar dari dalam perutku.Aku bermaksud untuk beranjak dari tempat tidur,namun karena keadaan sudah tidak memungkinkan dan aku sudah tidak tahan lagi.Maka keluarlah cairan berwarna kuning encer dari perutku.aku ternyata menderita diare.

Pada awalnya cairan tersebut tidak tercium baunya.Namun seiring bertambahnya volume,cairan tersebut mulai menggangguku.Tidak lama kemudian,cairan tersebut mulai tercium keluar.Pada saat itulah petaka dimulai.Gunjingan tetangga yang terdengar samar,terdengar begitu nyaring ditelingaku.Menusuk hatiku dengan begitu keras,membuat tetesan air dari mataku mengalir dengan deras.

Ya...!,aku memang hanya menyusahkanseperti yang mereka katakan.Ya...!,aku memang pantas dibuang saja seperti yang mereka katakan.Ya...!,aku meman seharusnya mati saja seperti yang mereka katakan.Namun,seharusnya mereka tahu.Seandainya aku bisa,sudah dari dulu hal itu aku lakukan.

Saat segalam macam perasaan berkecamuk dihatiku.Ibu datang dengan sebuah kantong kresek ditangannya.Ibu tergopoh-gopoh datang kearahku.Kemudian,tanpa memperdulikan tubuhnya yang renta dia membopongku tubuhku ke kamar mandi yang terletak diluar rumah.Di iringi berbagai macam arti dari sorot mata orang-orang yang menonton kami,ibu membopongku kesana.


Dikamar mandi,ibu memandikanku dan membersihkan celanaku yang kotor.Perlahan dia mengusap air yang mengalir dimataku.Ibu menarik kedua ujung bibirku,kemudian dia memukul-mukulkan telapak tangannya ke dadaku.Setelah itu sambil tersenyum dia mengepalkan tangannya.

Ah ibu...,aku tahu maksudmu.Engkau ingin aku tegar dan menghadapi semua ini dengan senyuman.Baiklah ibu...,aku akan coba.Namun,apa yang terjadi....?.senyuman memang keluar dari bibirku,berbarengan dengan tetesan air mata yang ikut keluar bersamanya.Ibu memeluk tubuhku erat.

***

Tanpa sadar,air mataku pun kembali menetes mengingat kejadian tadi siang tersebut.Yah...,semenjak sakit kuakui aku sering menangis.Akibat terlalu sering menangis tersebut matakupun berangsur-angsur kehilangan cahayanya.

Sesosok tubuh bangun dari bawah samping ranjangku.Seakan tahu aku sedang bersedih,sosok tersebut menghapus air mataku.Kemudian sosok tersebut menarik kedua ujung bibirku,dan memukul-mukul dadaku dengan telapak tangannya yang kasar.Sambil tersenyum dia mengepalkan tangannya,mengulangi apa yang biasa dia lakukan saat dia melihat aku menangis.Dalam pelukannya perasaan khawatir kembali menyapaku.

Ibu...,kau selalu menyuruhku untuk kuatnamu tahukah engkau bu...?,hanya saat bersama engkaulah aku merasa kuat.Jadi,kalau engkau pergi lebih dulu dariku bu,hanya kepada tuhan aku pasrahkan hidupku sebagaimana yang telah engkau ajarkan kepadaku.Tapi bu,kalau engkau benar-benar pergi mendahuluiku.Satu hal yang paling aku ingin lakukan adalah membalas semua yang kau berikan padaku sebelum aku pergi.Namun,rasanya menyakitkan sekali bu,saat aku menyadari diriku tidak bisa membalas kebaikanmu kepadaku meskipun sekedar ucapan terimasih”.

***

Dengan bekas air mata yang belum kering,aku terlelap dalam pelukan sosok yang paling tegar yang pernah aku temui....

IBU”